https://Cerita Pengajar.co.id/

Jumat, 29 September 2017

Ilaga - Kabupaten Puncak " Kota di Balik Awan"

Ini adalah cerita perjalanan saya ke Ilaga,walau cuma perjalanan singkat namun sangat membekas karena medan yang mendebarkan di tambah  jenis pesawat kecil yaitu Grand Caravan.
Untuk pergi ke Ilaga saya selalu selalu via Bandara Mozes Kilangin (Timika) sekedar informasi klo bandara ini sebenarnya milik PT Freeport. Mungkin ada rute lain yang belum saya ketahui tetapi itu adalah rute yang aman dan tercepat menurut saya.



Pagi hari, saya harus menunggu dari pukul 06.00 sampai jam 12.00 siang. Seat istilah untuk jatah penumpang tidak selalu tersedia, jika kita dapat pasti harganya cukup mahal. Biaya itu semahal harga Tiket pesawat Timika ke Jakarta,walaupun ada tiket subsidi itupun sudah habis terjual tiga bulan sebelumnya.




"Terminal Kargo - Moses Kilangin Airport"



Akhirnya pada hari ke tiga,saya dapat kepastian kalau "Seat" tersedia, saya sangat senang karena ini pengalaman pertama saya kesana "Ilaga". Pertama mereka menaikan kargo berupa sembako + Babi + Solar lalu terakhir naiklah penumpang,Tentunya setelah pengisian bahan bakar. Perjalanan 1 jam 15 menit terasa begitu mendebarkan karena inilah Penerbangan paling menantang nyawa yang pernah saya lakukan.

Sedikit saya gambarkan ya : pesawat dengan satu baling-baling satu. Bayangkan guncangan pesawat gede aja terasa apalagi sekecil itu. Wuuh... sedikit shock therapy :(



Namun rasa takut seketika hilang saat "Distrik Ilaga" nampak dari balik Kabut. Kelihatan sangat indah dan damai,walaupun saya lahir di Papua dan besar disana tetapi karena transportasi pesawat pada saat itu masih sangat mahal. Maka dari situ saya belum sempat mengeksplor daerah lainnya. Beda banget saat saya berada di Pulau Jawa, mau kemana saja transportasi tersedia 24 jam.  Cuaca cukup dingin menyambut saya pada waktu keluar dar pesawat, transportasi umum pada waktu saya datang cuma ada Ojek Motor yang meminta bayaran lima puluh ribu rupiah. Mahal.... ??? Air aqua 1 liter berharga lima puluh ribu,bakso semangkok senilai lima puluh ribu.
Wajar saja mahal karena semua bahan baku baru saja  datang dengan Pesawat yang saya tumpangi. Satu lagi jangan lupa membawa Uang Extra karena pada bulan Oktober 2016 belum ada ATM disana.



Satu foto sebagai bonus betapa menegangkannya perjalanan ke sana, salut saya untuk mereka yang mengabdi di Distrik Ilaga Kabupaten Puncak karena Perjalanan ke tempat pengabdian yang memakan banyak biaya dan berbahaya tentunya. Hampir setahun saya tidak kesana lagi namun tetap berharap daerah sana makin maju dan harga apa saja menjadi makin murah. Mungkin dengan Program Presiden yang mencoba menyamakan harga Bahan Bakar Minyak dengan daerah lainnya bisa membawa pengaruh besar.



SEE YOU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar