https://Cerita Pengajar.co.id/

Kamis, 05 Oktober 2017

Papeda & Sagu, sebagian dari masa kecil

Papeda & Ikan Kuah
Semenjak kecil atau bahkan pertama kali bisa makan, sagu sudah di perkenalkan kepada saya. Ketimbang memilih makanan bayi instant,orang tua saya memberi saya "Papeda Potong di dalam air". Semua anak kecil duduk melingkar sekeliling loyang dan mengambil Papeda yang sudah di potong.Setelah memasuki masa Remaja, saya makan dengan cara yang berbeda yaitu Papeda beserta kuah ikan/daging di satukan dalam satu piring lalu saya akan memakannya. Lebih enak lagi kalau di sedot/seruput, sensasi nikmatnya papeda langsung meluncur melewati tenggorokan. Setelah Dewasa atau sudah menikah, saya boleh duduk di antara orang dewasa untuk "Makan Papeda pakai Hiloy" . Papeda yang masih panas di ambil menggunakan Hiloy (sejenis garpu dari kayu) lalu dicelupkan ke kuah ikan/daging lalu di telan panas-panas. Rasa nikmat yang sejauh ini belum ada bandingannya ( Saya bahas makanan ya).
Papeda Panas & Hiloy
Terkadang ikan bakar jadi pilihan dengan kuah sambal jadi lauk untuk Papeda, kalo tidak ada lauk boleh pakai sayur atau kuah Supermi.hahaha. 
Sayangnya sebagian besar waktu saya habiskan di luar Papua, jarang sekali bisa makan Papeda. Istri saya sudah mempelajari cara membuat Papeda yang jauh lebih baik dari buatan saya, jadi begitu ada Sagu kami akan langsung membuat Papeda. Sayangnya pohon sagu mulai jarang saat ini karena Pembangunan Pemerintah dan Investasi dari luar Papua,lokasi yang dahulu rawa dan hutan sagu kini berganti dengan gedung megah serta perumahan mewah. Salah satu efek dari pembangunan yang tidak memperhatikan lingkungan (Ciyee kayak paham aja soal lingkungan). Intinya sagu adalah makanan pokok kami yang tidak bisa digantikan oleh beras dan jagung apalagi di ganti pohon kelapa sawit.

Mengolah Sagu
Sejak dahulu keluarga kami sudah menanam, memelihara ,mengolah dan mengkonsumsi sagu. Sagu yang saat ini di nikmati anggota keluarga merupakan hasil budidaya orang tua kami, tidak lagi mengharapkan yang tumbuh di alam bebas. Mengolah sagu di turunkan dari generasi sebelumnya walaupun saat ini lebih banyak menggunakan mesin yang sudah cukup mengurangi aktivitas fisik manusia, dalam keluarga cuma saya yang belum ahli mengolah sagu jadi saya menulis saja apa yang saya ketahui :

  • Menebang Pohon Sagu
Menebang sagu sewaktu saya kecil masih menggunakan kapak dan membutuhkan tenaga 4-5 orang namun saat ini adik saya seorang diri mampu menebang pohon sagu menggunak Chain Saw. Kemudian batang sagu di potong jadi gelondongan 1-2 meter denga menyisakan daun dan bagian pucuk pohon. Pucuk pohon dan daun nantinya di datangi kumbang sagu menjadi wadah tempat berkembangnya Ulat Sagu.
  • Mengupas Kulit Sagu
Mengupas kulit luar pohon sagu,membutuhkan tenaga yang banyak namun saat ini bisa lebih mudah karena sudah dipotong pendek terlebih dahulu. Dahulu kulit sagu di gunakan sebagai kayu api setelah di keringkan karena sifatnya yang mudah terbakar.
  • Membelah ,Mengangkut dan Memarut
Membelah sagu menjadi potongan kecil agar nantinya mudah  di parut/di hancurkan manjadi serpihan halus. Namun sebelum itu Gelondongan sagu sudah di bawa lebih dekat ke sumber air,untuk memudahkan pekerjaan selanjutnya.
  • Memeras Aci/Tepung Sagu
Terakhir hasil parutan di peras pati-nya menggunakan air,di tampung di sebuah wadah sambil menunggu tepung sagu mengendap di dasar  wadah. Sisa ampas yang sudah di ambil patinya akan jadi wadah untuk Jamur Sagu. Sedangkan untuk peralatan untuk memeras pati menggunakan daun dan pelepah sagu, luar biasa bukan... tidak ada yang terbuang dari pohon sagu bahkan ampas sagu dan kulit sagu tetap berguna.

Sedikit catatan :
Dinding rumah orang sentani dahulu menggunakan pelepah sagu yg bentuknya bundar sedangkan atap rumah menggunakan anyaman daun sagu. Satu pohon sagu menciptakan sebuah rumah, memberi karbohidrat dari sagu,serat dari jamur dan protein dari ulat sagu. Terima Kasih Tuhan....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar